Penulis : Sholikhatul Masyruroh, S.Pd.,Gr
Dakwah bukan hanya tugas para ustadz di atas mimbar, melainkan kewajiban setiap muslim untuk menyebarkan kebaikan dan membagikan kemaslahatan bagi sesama. Di era digital dan pesatnya arus modernisasi saat ini, tantangan dakwah semakin kompleks. Dunia membutuhkan sosok influencer kebaikan dari generasi muda yang tidak hanya paham ilmu agama, tetapi juga komunikatif, berkarakter Islami, serta mampu menjadi teladan (uswah) nyata di mana pun mereka berada. Semangat inilah yang melandasi berlangsungnya kegiatan Duta Dakwah Al Uswah (D2A). Mengusung tema “Bina Pribadi Islam: Napas Perjuangan Pembentukan Karakter”, program D2A dirancang untuk melahirkan da’i dan da’iyah muda yang cerdas, percaya diri, serta siap menjadi representasi nilai-nilai keagungan Islam di lingkungan sekolah, kampus, hingga masyarakat luas.
Rangkaian D2A Sesi 1 resmi dibuka pada Jumat, 31 Juli 2026, pukul 13.00–17.00 WIB. Sebanyak 59 siswa-siswi kelas XII mengikuti kegiatan ini dengan penuh antusiasme dan energi positif.
Sesi pembuka menghadirkan Kak Azzam (Ketua OSIS SMAIT Al Uswah Surabaya periode 2023/2024). Dengan gaya bicara yang relevan dan menggugah, Kak Azzam membakar semangat para peserta dengan memaparkan betapa krusialnya peran kegiatan D2A sebagai wadah pembentukan karakter serta pengasahan potensi diri. Atmosfer belajar semakin hangat saat Kak Izzudin mulai menyampaikan materi kedua. Beliau mengupas tuntas materi tentang Kesempurnaan Islam, membuka cakrawala para peserta bahwa Islam adalah agama yang menyeluruh, merangkum seluruh aspek kehidupan, dan menjadi solusi atas berbagai dinamika zaman.
Kehangatan dan semangat hari pertama berlanjut hingga esok harinya. Pada hari kedua, peserta diajak menyelami materi yang lebih mendalam terkait tantangan dakwah di lapangan.
Materi pertama disampaikan oleh Kak Faradis (Runner-up Duta FEB UNAIR) yang membagikan wawasan mengenai Karakteristik Da’i. Kak Faradys menekankan pentingnya integritas, percaya diri, keberanian bercakap di depan umum, serta penampilan yang mencerminkan keindahan akhlak seorang muslim. Rangkaian acara kemudian disempurnakan oleh Kak Lutfia yang memberikan pemahaman kritis kepada para peserta mengenai berbagai problematika sosial dan spiritual yang sedang dihadapi masyarakat modern, sekaligus membekali mereka dengan strategi dakwah yang santun, solutif, dan empatis.
